Kamis, 08 Maret 2012

Dash Diet

Diet DASH diperkenalkan pada tahun 1997. Diet ini direkomendasikan sebagai bagian dari pengobatan hipertensi (Frank M, et al, 2001) 

DASH diet konon ditemukan di Mediterania karena bahan makanan yang dianjurkan memang mirip dengan diet Mediterania dan kini banyak ditemukan di negara-negara Barat. DASH diet dipromosikan oleh NIH di Amerika Serikat untuk mengendalikan hipertensi karena hubungan antara tekanan darah dan risiko penyakit CVD terus-menerus konsisten di Amerika. Prinsip DASH diet adalah menurunkan konsumsi daging merah, permen, dan gula, cocok untuk mengendalikan konsumsi orang Amerika yang tinggi terhadap ketiga bahan makanan tersebut.

Tujuan dari DASH diet, yaitu
Ø Membantu menurunkan kadar LDL kolesterol dalam darah.
Ø Membantu mengkontrol tekanan darah.
Ø Membantu menurunkan berat badan (jika pasien kelebihan berat badan) (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2006)
Ø Mencegah dan mengontrol tekanan darah tinggi. (Setya Widyastuti)

Prinsip Dash Diet ada 5 yaitu :
a.       Konsumsi buah dan sayur yang mengandung kalium, fitoesterogen, dan serat.
b.      Menggunakan produk susu rendah lemak.
c.       Konsumsi ikan, kacang, dan unggas secukupnya.
d.      Kurangi SAFA seperti daging berlemak.
e.      Membatasi gula dan garam.
(Jurnal Universitas Pembangunan Nasional)
Syarat Dash Diet yaitu :
                Kalori rata-rata 1200, 1600, 2000, 2400 Kkal
                Sodium 2400 mg                                               Kalium 4700 mg
                Kalsium 1200 mg                                               Mg 500 mg
                Serat 20 gr                                                           Protein 18 % dari kalori
                Total fat 27% dari kal                                       Karbohidrat 55 % dari kal
                Kolesterol 150 mg                                            Lemak jenuh 6% dr kalori 
               (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2006)
    Ca         : 1000-1300 mg
                Serat     : 22-34 gr untuk dewasa
             Natrium maksimal 2300 mg, jika usia lanjut (lebih dari 51 tahun) atau sedang komplikasi dengan penyakit lain seperti diabetes, penyakit kronis ginjal, dll maka natrium dibatasi hingga maskimal 1500 mg.

.  Keefektifan Dash diet sehingga bisa dijadikan nomor 1 bisa dilihat dari berbagai segi yaitu
  • Kelengkapan nutrisi : memiliki perencanaan yang seimbang
  • Potensi mencegah penyakit : menurunkan tekanan darah dan kolesterol, menurunkan resiko              beberapa kenker, sakit jantung, stroke, gagal jantung, batu ginjal dan diabetes, dan      penurunan berat badan.
  • Kemudahan untuk dijalankan : pengaturan bisa dilakukan secara personal tanpa bantuan       pihak lain. Semua orang yang sedang melakukan diet khusus dapat mengikuti DASH diet             seperti vegetarian & vegan, gluten-free, low salt, dan halal.
  • Kemampuan menurunkan tekanan darah : 14 hari tanpa intake sodium
  • DASH diet bersifat kuratif dan preventif sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu lama. Selain itu sebuah penelitian di US yang dilakukan selama 24 tahun menyatakan DASH Diet memberikan penurunan resiko CHD dan Stroke. (Fung, 2008)
  •  DASH diet untuk permulaan biasanya diberikan selama 28 hari (dengan penyesuaian bermacam-macam level kalori, resep, dll). Jika sudah berhasil, DASH diet tetap bisa digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh kita dan menjaga tekanan darah untuk lebih stabil.
  •  Hipertensi merupakan penyakit yang tidak bisa sembuh, maka setelah tekanan darah diturunkan,DASH diet masih bisa dikonsumsi seterusnya untuk mengontrol tekanan darah dan dikonsumsi bersama obat hipertensi.
  • Pengaplikasiannya tetap seperti makan biasa yaitu makan utama 3 kali per hari dangan diselingi snack. (US Departement, 2006)
7.       Indikasi dan kontraindikasi pemberian DASH diet
Indikasinya:
-          Pasien dengan hipertensi dan pasien CKD. Kontraindikasinya pasien lactose intolerance, karena DASH diet ini perlu banyak konsumsi dairy foods untuk pemenuhan calcium dan proteinnya.
-          Mengalami hipertensi
-          Tekanan darah sedikit diatas normal
-          Mempunyai resiko genetic hipertensi
Kontraindikasi
Untuk yang gangguan GIT
 
7.       Apa saja efek samping dan kelemahan dari DASH diet?
-          DASH diet banyak mengonsumsi buah, sayuran, dan whole grain yang tinggi serat. Pada beberapa orang makanan yang tinggi serat dapat menyebabkan diare. Untuk menghindari hal tersebut bisa dilakukan dengan menambah asupan serat secara bertahap. Sumber : (U.S. DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES, 2006)
-          Salah satu strategi untuk memulai DASH diet yaitu merubah secara bertahap misalnya mengkonsumsi 1-2 serving buah dan sayur per hari sehingga tidak merasa terbebani apabila langsung merubah secara keseluruhan
 
Daftar Pustaka   
  1. DASH DIET . http://www.uhs.wisc.edu/health-topics/nutrition-fitness-and-heart-health/documents/DASHdiet.pdf diakses pada tanggal 21 februari 2012 pkl 13.50.
  2. Heller, Maria. 2004. The DASH Diet Eating Plan.  http://dashdiet.org/what_is_the_dash_diet.asp. Diakses 21 Februari 2012. Pukul 12.23 WIB
  3.    _____. 2006. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi. Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Departemen Kesehatan.
  4. Fact about The DASH di http://www.cardioconnection.org/media/pdf/new_dash.pdf diakses pada tanggal 21 februari pkl 13 : 10  
  5. HEALTware DASH DIET_ Not just for hypertension page 1 April 2001 diakses pada tanggal 21 februari 2012 pkl 13.50
  6. National Institutes of Health (NIH), National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI): The DASH diet, US Department of Health and Human Services, Public Health Services, NIH Publication No 99-4082, 1999
  7. Rahmayanti ervina M, Sujiati ending. Anjuran kombinasi diet DASH (Dietery Approaches to Stop Hyperension ) dan diet rendah garam pada wanita menopause dengan hipertensi.jurnal kesehtan, volume 7 ,No 2, November 2009 :100-118 http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/7209100118_1693-4903.pdf diakses pada tanggal 22 februari 2012 pkl 04.30 AM
  8. Teresa T Fung. 2008. Adherence to a DASH-Style Diet and Risk of Coronary Heart Disease and Stroke in Women . [online] http://archinte.ama-assn.org/cgi/reprint/168/7/713.pdf diakses 22 Februari 2012 oukul 20.00 WIB
  9.  U.S. DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES National Institutes of Health National Heart, Lung, and Blood Institute. 2006. Your Guide to Lowering Your Blood Pressure with DASH Eating Pattern. [online] http://www.nhlbi.nih.gov/health/public/heart/hbp/dash/new_dash.pdf diakses 21 Februari 2012 pukul 20.00 wib
  10. U.S. News & World Report. 2012. Best Diet Overall. http://health.usnews.com/best-diet/best-overall-diets. Diakses 21 Februari 2012. Pukul 13.90 WIB

          

Moon Embrace The Sun

Drama korea ini bergenre kolosal yg diaptasi dari sebuah novel yg penulisnya sama dengan drama korea kolosal Sunkyunkwan Scandal.


Drama ini bermula dari seorang putra mahkota berusia 15 tahun (Lee Hwon) yg jatuh cinta  pada seorang anak perempuan menteri (Yoon Yu) berusia 13 tahun. Awalnya mereka bertemu tidak terduga karena ada kesalahpahaman, yaitu Yoon Yu ke istana untuk melihat kakaknya berusia  17 tahun (Heom) lulus dengan nilai terbaik. Lalu ia bertemu Lee Hwon di istana dan mengira bahwa Lee Hwon telah mencuri makanan dari kerajaan karena tasnya terjatuh dan semua isinya terbuka, padahal Lee Hwon membawa bekal makanan dari rumahnya sendiri (istana) karena sangat ingin bertemu dengan kakak laki-lakinya (satu ayah beda ibu) yg 2 tahun lebih tua darinya (Yang Myung). Yang Myung tinggal di luar istana karena merasa tidak diinginkan oleh keluarga ayahnya, sementara ibu kandungnya tinggal di kuil. Setelah Yoon Yu  hendak pulang dari istana, pegawai kerajaan memberinya  surat (dari Lee Hwon) yang berisi seperti puisi, dari situlah Yoon Yu mengerti kalau Lee Hwon bukan pecuri, tetapi putra mahkota. Lalu Yoon Yu sangat cemas dan ingin segera meminta maaf, sementara Lee Hwon di istana sudah senyum-senyum meningat Yoon Yu terus (mulai jatuh cinta)

Beberapa hari setelah terjadi kesalahpahaman antara Yoon Yu dan Lee Hwon, kakak Yoon Yu (Heom) yang sangat cerdas diperintahkan untuk mengajar Lee Hwon. Tapi putra mahkota ini menolak, karena usia mereka tidak beda jauh. Kemudian di malam harinya Heom curhat pada adiknya (Yoon Yu) kalau putra mahkota tidak mau belajar dengannya, akhirnya Yoon Yu menemukan ide untuk memberikan suatu tebakan “kadang dibuka terang, kadang gelap” apakah itu???

Keesokan harinya Heom memberikan tebakan itu pada Lee Hwon, dan membuat kesepakatan jika Lee Hwon berhasil menjawab maka dia bersedia mengundurkan diri menjadi gurunya. Mulai detik itu Lee Hwon jadi rajin, ia membuka banyak buku sehingga putri, adiknya Lee Hwo(Min hwa) jadi sangat takjub akan perubahan kakanya yang dengan rajin membuka begitu banyak buku. Minhwa bertanya siapa guru kakanya, karena sangat hebat membuat kakaknya begitu rajin. Lalu Lee Hwon menceritakan tebakan dari gurunya lalu Minhwa menjawab “itu kan kelopak mata kita” haaahahaa Lee Hwon tertawa, karena ia menganggapnya adiknya hanya bergurau, lalu Lee Hwon mengusir adiknya karena hanya mengganggu saja, MinHwa terus menangis sangat kencang.

Keesokan harinya, Lee hwon menjawab tebakan Heom berdasarkan buku-buku yang ia. Dan ternyata jawabannya bukanlah yg dimaksud oleh Heom, Heom juga tidak menyalahkan jawaban putra mahkota. Heom menjawab jawaban yg ia maksud yaitu  kelopak mata. Lalu Lee hwon marah “apa maksudmu apa kau mempermainkanku???” karena ia anggap itu jawaban anak kecil karena ia ingat adiknya telah menjawab itu.
Lalu Heom bercerita alasan memberikan tebakan itu dan kalau tebakan itu dari adiknya (Yoon Yu). Lalu Lee Hwon luluh (teratawa terbahak) dan mengajak gurunya minum diluar ruangan. Di tempat itu Lee Hwon bertanya adik guru umur berapa kok cerdas banget memberi tebakan yang dapat meluluhkanku, Heom bilang 13 tahun dan mereka selalu belajar bersama tiap malam. Dari situ Lee Hwon kagum dan memberi sedikit makanan dimeja untuk adik Heom.
 
Lee Hwon tiba2 teringat, kalau Heom adalah murid berprestasi dan mendapat penghargaan lalu ia juga ingat bahwa adiknya itu adalah Yoon Yu. Dari sinilah Lee Hwon dan Yoon yu mulai sama-sama suka dan ingin bertemu lagi. Hadiah dari Lee Hwon akan dibalasnya dengan surat permintaan maaf. 


Di toko kertas ia bertemu kakak Hwon sekaligus teman kakanya Heom yaitu Yang Myung. Dan ternyata Yang Myung sangat menyukai Yoon Yu. Jadi 2 bersaudara ini suka gadis yang sama.
 
Sementara di istana, Minhwa bertanya pada Lee Hwon apa jawaban tebakan kemaren, dan Lee Hwon majwab jawabanmu benar..hahahaa Minhwa tertawa, dan mengatakan bahwa guru kakanya sangat hebat, dan ia sangat ingin bertemu siapa guru kakanya ini. Lalu Minhwa mengunjungi istana kakanya dan bertemu Heom dan langsung jatuh cinta.
Minhwa meminta pada Raja, ayahnya kalau Heom juga jadi gurunya. Dan tentu saja raja menolak, akhirnya raja meminta anak-anak menteri yang lebih tua dari Minhwa untuk jadi teman belajar anaknya. Kandidatnya adalah Bokyung dan juga Yoon Yu.
Keesokan harinya Lee Hwon menerima surat Yoon Yu dan begitu kagum akan keindahan kata2 dan tulisannya. Dan di suatu perayaan acara istana, Yoon yu dan Bokyung diundang datang lalu Lee Hwon menyamar dan menarik tangan Yoon Yu, dan mamintanya untuk mendaftar di pemilihan ratu. Dan Yoon Yu bersedia padahal ayahnya sudah tidak begitu menginjinkan. Di lain tempat Bokyung dan Yang myung melihat mereka berduaan dan sangat cemburu.
Yang myung meminta satu hal pada raja agar Yoon Yu menjadi istrinya, tapi ayahnya tidak menjawab dgn jelas. Dan di pemilihan seperti yang diduga Yoon Yu yang terpilih. 

Waaah tapi karena nenek Lee Hwon hanya mengingkan keturunannya yg menjadi ratu, ia bertekad untuk menyuruh shaman (peramal dan sejenisnya) untuk membunuh Yoon Yu. Sementara itu Minhwa terus mendesak ayah, ibu dan neneknya untuk dinihkahkan dengan Heom,  Minhwa iri kenapa  Yoon Yu bisa menikah dgn kakaknya dan ia tidak. Alasan inilah yg digunakan nenek untuk membunh Yoon Yu. Yoon yu sakit dan tidak bisa ditolong oleh tabib istana lalu dipulangkan kerumahnya dan Lee Hwon tentu saja menangis histeris.



Hari demi hari penyakit Yoon Yu tidak kunjung sembuh, hingga suatu saat shaman (ahli sihir kerajaan yg diperintahkan nenek/ibu suri) memberikan obat untuk Yoon Yu lewat ayahnya dgn alasan utk mengurangi penderitaan krn sakitnya Yoon yu harus minum obat itu. Setelah minum obat itu Yoon yu meninggal dan dikuburkan, semua menangis dan tidak percaya.
Beberapa jam kemudian shaman dan beberapa orang (seol, janshil) datang ke pemakaman Yoon yu dan membuka kuburannya karena Yoon yu hanya meninggal sesaat. Shaman tidak benar2 membunuh Yoon yu karena ia telah brjanji pada temannya yg telah dihukum mati kalau ia harus melindungi Yoon yu.
8 tahun kemudian Yoon yu telah dewasa dan tumbuh sebagai gadis shaman. Saat itu di daerahnya dikunjungi oleh raja(Lee hwon), jadi mereka bertemu. Lee hwon bersama Una(bodyguardnya)  tersesat lalu bertemu Yoon yu. Lee Hwon menanyakan pada Yoon Yu siapa namanya, dan ia membalas tidak memiliki nama karena ia tidak ingat bagaimana latar belakangnya karena semua memorinya telah dihilangkan. Lalu Lee hwon memberinya nama yaitun wo yg artinya bulan.

Shaman dipanggil kembali ke  istana atas perintah ibu suri, namun ia menolak. Karena tolakannya itu, wol yg dikira anaknya diculik dan dibawa ke istana. Ibu suri mendengar kalau shaman punya anak perempuan dan menyuruh anak tsb untuk mengambill aura negatif raja saat tidur. Karena raja sedang sakit dan tidak bisa membuat keturunan. Dan suatu saat raja menangkap basah wol dikamarnya dan raja punya filing kalau shaman ini adalah Yoon Yu.

Akhirnya raja menyelidiki kejadian 8 tahun lalu dan mengetahui apa yg terjadi, sementara ingatan Yoon Yu juga pulih sedikit demi sedikit. Masalah terjadi lagi karena yang myung kakak Lee hwon juga menyukai wol. Tapi wol menolaknya jadi akhirnya wol alias Yoon yu sama raja alias Lee hwon menikah dan hidup bersama :D,,,ratu (Bokyung) jd gila, ayah Bokyung dan nenek  Raja dihukum minum racun, dan adik raja (Minhwa) dihukum menjadi budak karena menyembunyikan kematian yoon yu, sementara tragisnya dalam novel prince yang Myung meninggal *mix happy and sad  ending
 (waaah capek juga cerita 20 ep dalam satu cerita gini,, maaf ngebut bgt jd ga lengkap,,yaaa intinya gitu laa..semoga menghibuR :D )

 behind the scene..
Yoon yu dan Lee hwon



Sabtu, 21 Januari 2012

makanan vs psikologi

sekedar  sharing nih ke temen2 tentang ilmu yang sudah aku dapatkan lagi di kampus ^o^
dan buat ngerefresh ilmu yang sudah didapakan dari mata kuliah pilihan gizi yang aku pilih minggu ini  #lusa ujian
oke cekidot yaaa..

pada tau gak si kalo ternyata otak kita itu sangat dipengaruhi oleh yang namanaya makanan..

otak,,organ ini sangat penting untuk kita sama halnya dengan jantung,,di otak ada berjuta-juta saraf yang jika ada sedikit saja kerusakan di organ ini maka akan berakibat sangat fatal, salah satunya yaitu akan mempengaruhi cara berpikir dan perilaku kita yang intnya adalah mempengaruhi psikologi kita.
Makanan juga dapat mempengaruhi kinerja otak, ada yang meningkatka kinerjanya dan ada juga yang malah memperburuk kinerjanya. Jadi kita harus berhati-hati dalam memilih makanan apa yang baik untuk otak.

Bagian otak yang berhubungan dengan asupan makanan yaitu NEUROTRANMITTERS yang terdiri dari :
- katecolamin -> yang merangsang kita untuk berhenti makanan
- serotonin -> yang merangsang rasa kenyang
- peptide -> yang merangsang kita untuk makan

dan seperti yang telah dijelaskan tadi jika kita salah mengkonsumsi makanan itu akan berdampak pada neurotranmitters diatas sehingga juga mempengaruhi nafsu/intake makan kita,bisa jadi berlebihan dan bisa juga terlalu turun.

dan ada pengklasian lagi ni dari NEUROTRANSMITER
a. neurotransmiter yang meningkatnkan intake makan :
- norephineprin
- neuropeptide
-galanin
b. neurotransmiter yang menurunkan intake makan :
- cholesystokinin
- bombesin
- cortikotropin releasing hormon (CRH)
- serotonin

naah ttrus makanan yang seperti apa yang punya pengaruh besar??
-makanan manis
makanan manis dipengaruhi oleh serotonin, dimana saat kita stress makanan manis ini mampu meningkatkan mood kita jadi jauh lebih baik, namun harus diketahui bahwa terlalu tinggi serotonin pun ternyata tidak berefek baik bagi otak karena meyebabkan adanya gejala manik yaitu merupakan syndrom dengan ciri-ciri terlalu bahagia, senang dimana rasa senang itu tidak normal dan berlebihan #ketawa sendiri dll. Keseringan manis juga bisa buat kita diabet dan obes, so harus standart aja.
- makanan asin 
makanan asin kurang begitu baik jika berlebihan karena dapat mempengaruhi elektrolit yang behubungan dengan otak yaitu Ca dan Na
-kaffein
kandungan makanan ini nantinya akan meningkatkan kortisol sehingga triptofan meningkat dan seronin menurun sehingga dapat menyebabkan stress
-sayur dan buah
makanan ini tidak hanya baik untuk sistem GIT karena mengandung serat, namun juga baik untuk otak kita karena kandungan vitaminnya yang tinggi, terutama asam folat yang sangat berpengaruh terhadap kinerja otak, jika kekurangan asam folat maka akan ada kecacatan pada otak seperti munculnya syndrom bipolar disorder, gila dll
- ikan
kita harus percaya jika ada seseorang yang mengatakan bahwa konsumsi ikan yang sering akan meningkatkan kecerdasan, hal itu benar karrena telah banyak penelitian yang mengatkan bahwa ikan mengandung asam lemak essensial yang dibutukan tubuh, seperti omega 3(EPA,DHA), 6 dan 9. Omega3 sangat berperan dalam perkembangan otak, dan kekurangan zat ini maka dampaknya seperti kekurangan as.folat. Berbagai pnelitian pun mengatakan bahwa omega3 telah menjadi terapi gizi untuk penderita kelainan psikologi. Dan jika vegan bisa mengganti ikan ini dengan kenari dan minyak canola karena mengandung as.linoic acid (ALA) yang nantinya dalam tubuh bisa diubah menjadi omega3
- daging 
protein tinggi seperti daging dapat menigkatkan mood kita karena dapat merangsang norephineprin dan dopamin. 
- berlemak
makanan berlemak dipengaruhi oleh galanin, dimana makanan ini baik untuk otak. namun jika berlebihan pun tidak baik karena bisa menyebabkan penyakit komplikasi termasuk stroke yang terjadi karena penyumbatan darah di oatak.
- air 
 85% komposisi otak terdiri dari air, air akan membantu pembentukan energi, saraf pusat butuh energi dari air yaitu dalam bentuk o2. jika kekurangan air/dehydrasi dapat berakibat fatal,,kematian pun bisa terjadi.

jadi hati-hati ya dalam milih makanan,,jangan hanya enak di lidah tapi ga enak di dalam.. 

Jumat, 16 Desember 2011

galau

hari ini benar2 membuatku dilema,,ntah mengapa hari ini rasanya emosiku memuncak..
selain temen2 dikelas yg hari ini lumayan nyebelin yg sering goda2in,,ditambah keinginanku yg tidak terpenuhi karena tak mendapatkan restu dari ibu -,-

aku masih ingat kata mentorku,,kalau saat kita mati amalan atau perbuatan yg paling diprtimbangakn adalah saat kita masih muda..
bagaimana kita menghabiskan masa muda kita, apa yg telah kita lakukan untuk agama, negri kita?

sambil merenung?? sepertinya saya masih belum melakukan apa2..
so perbaiki diri dari sekarang,,segera berbenah apak kita selalu berada pada zona nyaman,,?
jika iya maka celakalah kita !!

kita hidaup di dunia ini hanya sandiwara,,kita hidup untuk hidup di kehidupan selanjutnya yg lebih abadi
So selagi muda kita harus selalu rajin berbuat baik, ibadah dan bersedekah..
Allah sudah memaklumi jikalau kita berbuatbaik pada usia yg tak muda lagi..

nah di saat ada tawaran amanah yang memang insyaAllah dapat mengembangkan potensiku,,orang tua tidak memberikan ijin,,berbagai rayuan telah terlontar tapi hasilnya nihil..
so bersyukurlah kalian jika orang tua nya mendukung untuk selalu aktif dalam keorganisasian ..

jadi hari ini telah diputuskan untuk tidak menerima amanah yg sungguh luar biasa itu,,karena aku yakin bahwa ridho orang tua adalah ridho Illahi,,dan yg terjadi sekarang merupakam ketetapan dari Tuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi..insyaAllah ada yang jauh lebih baik yang dapat mengemban amanah tsb :D

semoga masih bisa berpotensi dimanapun berada,,amiiin..

Minggu, 04 Desember 2011

Princess man

Drama korea yang satu ini ga boleh dilewatin nih sm para penggemar drama korea,,tau kenapa??
karena drama korea yang satu ini penuh dengan intrik politik..
dari cerita drama korea ini,,kita jadi tau bahwa semua bisa dikorbankan termasuk nyawa2 tak berdosa demi suatu kedudukan..

to be continuedd..

Sabtu, 12 November 2011

masalah obesitas dengan hipertensi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obesitas adalah kondisi kelebihan lemak, baik di seluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian bagian tertentu. Obesitas merupakan peningkatan total lemak tubuh, yaitu apabila ditemukan kelebihan berat badan >20% pada pria dan >25% pada wanita karena lemak. Obesitas adalah suatu masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius di seluruh dunia karena berperan dalam meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Prevalensi obesitas meningkat di setiap negara. Sebagai contoh, di Amerika Serikat prevalensi meningkat dari 12% pada tahun 1991 menjadi 17,8% pada tahun 1998. Penelitian Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) mendapatkan angka prevalensi obesitas pada wanita (11,02%) lebih besar daripada pria (9,16%). Obesitas meningkat di setiap negara, pada setiap jenis kelamin, dan pada semua kelompok usia, ras, dan tingkat pendidikan. Obesitas merupakan faktor resiko dari berbagai penyakit antara lain Diabetes mellitus , dislipidemia, dan hipertensi yang akan menimbulkan peningkatan penyakit jantung koroner (Hariadi, Arsad Rahim Ali, 2005).
Tekanan darah akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur seseorang. Peningkatan tekanan darah tersebut akan lebih besar pada individu dengan riwayat keluarga hipertensi, kelebihan berat badan, dan mempunyai ecenderungan stress emosional yang tinggi (Septrianawati, 2008). Berbagai penelitian epidemiologik telah membuktikan adanya hubungan yang kuat antara obesitas dan hipertensi. Data yang diperoleh dari NHANES pada populasi orang Amerika Serikat memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan linier antara kenaikan rasio lingkar pinggang dan pinggul dengan tekanan darah sistolik dan diastolik serta tekanan nadi. Farmingham study (2007) melaporkan risiko terjadinya hipertensi sebesar 65% pada wanita dan 78% pada laki-laki berhubungan langsung dengan obesitas dan kelebihan berat badan. Pada individu obese jumlah darah yang beredar akan meningkat, cardiac output akan naik, sehingga tekanan darah akan naik. Ada banyak faktor risiko hipertensi, beberapa di antaranya dapat dikendalikan dan dikontrol. Umur, jenis kelamin dan genetis merupakan factor resiko yang tidak dapat dikontrol. Sementara obesitas, kurang olahraga, merokok, dan stress emosional merupakan faktor resiko yang dapat dikontrol (Septrianawati, 2008).

1.2 Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan antara obesitas dengan tekanan darah tinggi (Hipertensi) ?

1.3 Tujuan
Untuk menunjukkan hubungan antara obesitas dan terjadinya hipertensi

1.4 Manfaat
Memberikan informasi adanya hubungan antara obesitas dan terjadinya hipertensi

BAB II
ISI & PEMBAHASAN

2.1. Obesitas
2.1.1. Definisi dan Kriteria Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan.
Untuk menentukan obesitas diperlukan kriteria yang berdasarkan pengukuran antropometri dan atau pemeriksaan laboratorik, pada umumnya digunakan:
a. Pengukuran berat badan (BB) yang dibandingkan dengan standar dan disebut obesitas bila BB > 120% BB standar.
b. Pengukuran berat badan dibandingkan tinggi badan (BB/TB). Dikatakan obesitas bila BB/TB > persentile ke 95 atau > 120% 6 atau Z-score = + 2 SD.
c. Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur skinfold thickness (tebal lipatan kulit/TLK). Sebagai indikator obesitas bila TLK Triceps > persentil ke 85. Pengukuran lemak secara laboratorik, misalnya densitometri, hidrometri dsb. yang tidak digunakan pada anak karena sulit dan tidak praktis. DXA adalah metode yang paling akurat, tetapi tidak praktis untuk dilapangan.
e. Indeks Massa Tubuh (IMT), > persentil ke 95 sebagai indikator obesitas.

Cara lain untuk mengetahui distribusi lemak tubuh adalah dengan cara melihat bentuk tubuh. Terdapat 3 macam bentuk tubuh berdasarkan karakteristik distribusi lemak

Gynoid (Bentuk Pear)
Lemak disimpan di sekitar pinggul dan bokong Tipe ini cenderung dimiliki wanita. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthritis dan varises vena (varicose veins).

Apple Shape (Android)
Biasanya terdapat pada pria. dimana lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe Gynoid, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh darah dibandingkan dengan sel-sel lemak di tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, penyakit gallbladder, stroke, dan jenis kanker tertentu (payudara dan endometrium).
Melihat hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang pria kurus dengan perut gendut lebih beresiko dibandingkan dengan pria yang lebih gemuk dengan perut lebih kecil.

Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetik.

2.1.2. Faktor-faktor Penyebab Obesitas
• Genetik
Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di
dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk
cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula. Dalam hal ini nampaknya faktor
genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh. Hal
ini dimungkinkan karena pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak
yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan
kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun
memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar.

• Kerusakan Pada Salah Satu Bagian Otak
Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu bagian otak yang
disebut hipotalamus –sebuah kumpulan inti sel dalam otak yang langsung berhubungan
dengan bagian-bagian lain dari otak dan kelenjar dibawah otak. Hipotalamus
mengandung lebih banyak pembuluh darah dari daerah lain pada otak, sehingga lebih
mudah dipengaruhi oleh unsur kimiawi dari darah.
Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu hipotalamus
lateral (HL) yang menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan); hipotalamus
ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat
kenyang). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka individu
menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan
minum (diberi infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka
seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan.
• Pola Makan Berlebihan
Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding dengan orang berberat badan normal
terhadap isyarat lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya waktu
makan. Orang yang gemuk cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan
pada saat ia lapar. Pola makan berlebih inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk
keluar dari kegemukan jika sang individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang
kuat untuk mengurangi berat badan.

• Kurang Gerak/Olahraga
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh.
Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor : 1) tingkat aktivitas dan olah raga secara
umum; 2) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk
mempertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal
memiliki tanggung jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal.
Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang
dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik
memiliki peran yang sangat penting. Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung
mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan
mengalami penurunn metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan
menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi
sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga secara tidak langsung
akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut. Jadi olah raga
sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori,
melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolis normal.

• Pengaruh Emosional
Sebuah pandangan populer adalah bahwa obesitas bermula dari masalah emosional yang
tidak teratasi. Orang-orang gemuk haus akan cinta kasih, seperti anak-anak makanan
dianggap sebagai simbol kasih sayang ibu, atau kelebihan makan adalah sebagai subtitusi
untuk pengganti kepuasan lain yang tidak tercapai dalam kehidupannya. Walaupun
penjelasan demikian cocok pada beberapa kasus, namun sebagian orang yang kelebihan
berat badan tidaklah lebih terganggu secara psikologis dibandingkan dengan orang yang
memiliki berat badan normal. Meski banyak pendapat yang mengatakan bahwa 0rang
gemuk biasanya tidak bahagia, namun sebenarnya ketidakbahagiaan /tekanan batinnya
lebih diakibatkan sebagai hasil dari kegemukannya. Hal tersebut karena dalam suatu
masyarakat seringkali tubuh kurus disamakan dengan kecantikan, sehingga orang gemuk
cenderung malu dengan penampilannya dan kesulitannya mengendalikan diri terutama
dalam hal yang berhubungan dengan perilaku makan.
Orang gemuk seringkali mengatakan bahwa mereka cenderung makan lebih banyak apa
bila mereka tegang atau cemas, dan eksperimen membuktikan kebenarannya. Orang
gemuk makan lebih banyak dalam suatu situasi yang sangat mencekam; orang dengan
berat badan yang normal makan dalam situasi yang kurang mencekam (McKenna,1999).
Dalam suatu studi yang dilakukan White (1977) pada kelompok orang dengan berat
badan berlebih dan kelompok orang dengan berat badan yang kurang, dengan menyajikan
kripik (makanan ringan) setelah mereka menyaksikan empat jenis film yang mengundang
emosi yang berbeda, yaitu film yang tegang, ceria, merangsang gairah seksual dan sebuah
ceramah yang membosankan. Pada orang gemuk didapatkan bahwa mereka lebih banyak
menghabiskan kripik setelah menyaksikan film yang tegang dibanding setelah menonton
film yang membosannkan. Sedangkan pada orang dengan berat badan kurang selera
makan kripik tetap sama setelah menonton film yang tegang maupun film yang
membosankan.

• Lingkungan
Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika
seseroang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol
kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk.
Selama pandangan tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal maka orang yang
obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan
kegemukan.

2.1.3. Komplikasi Obesitas
1. Hipertensi
Miller dkk. dalam penelitiannya mendapatkan adanya peningkatan kadar insulin dan aldosteron dalam plasma penderita obesitas. Aldosteron akan mengurangi ekskresi Na dalam glomeruli, begitu juga insulin pada percobaan binatang dengan jelas mengurangi pula sekresi Na dalam glomeruli; dalam beberapa hal keadaan ini diperkirakan juga terjadi pada manusia, sehingga adanya peningkatan insulin dan aldosteron akan menyebabkan retensi Na dalam darah yang mengakibatkan terjadinya peningkatan volume darah, yang menyebabkan hipertensi.

2. Diabetes Mellitus
Penderita obesitas sering mengalami hiperglikemi tetapi dalam keadaan hiperinsulinisme; keadaan ini mungkin karena adanya resistensi insulin yang meningkat atau kurang pekanya reseptor insulin terhadap adanya hiperglikemi. Ada pula yang mengatakan bahwa pada penderita obes diabetik, kelainan dasarnya adalah gangguan keseimbangan kinetik sekresi insulin. Sekresi insulin terlambat sehingga kadar glukosa darah tidak dapat dikontrol secara teratur dan terdapat peningkatan sekresi insulin sehingga cenderung terjadi hiperinsulinisme yang disertai dengan peningkatan resistensi insulin. Kecuali itu, hiperglikemi dan hiperinsulinemi dapat pula disebabkan oleh karena kualitas insulin yang abnormal, adanya produk/ hormon yang bersifat antagonis terhadap insulin atau berkurangnya jumlah reseptor yang sensitif pada membran sel.

3. Faktor Resiko Gagal Jantung
Sekalipun tanpa tekanan darah yang tinggi, obesitas sendiri sudah dapat mengakibatkan kelemahan otot jantung atau cardiomyopathy, sehingga mengganggu daya pompa jantung. Penelitian Framingham menunjukkan meningkatnya resiko kematian mendadak karena serangan jantung yang sangat mencolok baik pada pria ataupun wanita dengan obesitas. Wanita obesitas mempunyai resiko 13 kali lebih banyak mengalami kematian mendadak dan kesakitan dibandingkan dengan wanita yang tidak obesitas.

4. Stroke
Obesitas dan kelebihan berat badan akan mempengaruhi sistem sirkulasi darah. Obesitas juga menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan memiliki kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes, yang semuanya dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke.

5. Gangguan Pernapasan
Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak didaerah dinding dada dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan. Pada saat tidur terjadi penurunan tonus otot dinding dada yang disertai penurunan saturasi oksigen dan peningkatan kadar CO2, serta penurunan tonus otot yang mengatur pergerakan lidah yang menyebabkan lidah jatuh kearah dinding belakang faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafas intermiten.

6. Nyeri Sendi/ Osteoartritis
Setiap peningkatan berat badan lebih dari normal akan menimbulkan beban yang berlebihan pada sendi penyangga berat badan, dan ini cenderung menyebabkan trauma ringan tetapi terus-menerus dan akan berakhir menjadi osteoartritis (OA) baik primer ataupun sekunder. Pengapuran dan bengkak sendi akan bertambah dengan bertambahnya usia atau memasuki masa menopause.

7. Batu Empedu
Pada obesitas dengan BMI diatas 30 didapatkan kecenderungan timbul batu empedu dua kali lipat dibandingkan orang normal; pada obesitas dengan BMI lebih dari 45, ditemukan angka 7 kali lipat.

8. Kanker
WHO memperkirakan obesitas dan hidup yang santai bertanggung jawab atas timbulnya kanker payudara, usus besar, endometrium, ginjal, dan esofagus. Di Inggris, 20-30 ribu kasus kanker per tahun terdapat pada kaum obesitas. Terbukti pula hubungan kuat antara obesitas dengan risiko timbulnya kanker pankreas, rahim, prostat, dan indung telu r.

9. Perlemakan Hati
Pada obesitas terjadi penurunan kadar adiponektin yang akan menyebabkan penurunan daya proteksi hati terhadap lemak sehingga terjadi resistensi insulin yang dinilai dari Homeostasis Model Assessment (HOMA). Adiponektin adalah faktor protektif untuk terjadinya penyakit perlemakan hati non alkohol pada obesitas.

2.2. Hipertensi
2.2.1. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah arterial , dimana sistol ≥ 140 mmHg dan
diastol ≥ 90 mmHg. Tekanan darah bergantung kepada :

1. Curah jantung
2. Tahanan perifer pada pembuluh darah
3. Volume atau isi darah yang bersirkulasi

Faktor utama dalam mengontrol tekanan arterial ialah output jantung dan tahanan perifer total. Bila output jantung (curah jantung) meningkat, tekanan darah arterial akan meningkat, kecuali jika pada waktu yang bersamaan tahanan perifer menurun. Tekanan darah akan meninggi bila salah satu faktor yang menentukan tekanan darah mengalami kenaikan ( Lumbantobing, 2008).
Tabel 2.1. Klasifikasi tekanan darah berdasarkan JNC VII :
Kategori Tekanan darah systole Tekanan darah diastole
Normal < 120 mmHg < 80 mmHg Prehypertension 120 – 139 mmHg 80 – 89 mmHg Hypertension stage 1 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg Hypertension stage 2 ≥ 160 mmHg 100 mmHg 2.2.2. Etiologi Hipertensi Berdasarkan etiologinya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu: 1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui peyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti genetik, lingkungan, sistem renin angiotensin, sistem saraf otonom, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko seperti merokok, alkohol, obesitas, dan lain-lain (Lauralee, 2001). 2. Hipertensi sekunder, terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui, misalnya a. Penyakit ginjal : glomerulonefritis akut, nefritis kronis, penyakit poliarteritis, diabetes nefropati, b. Penyakit endokrin : hipotiroid, hiperkalsemia, akromegali, c. koarktasio aorta, d. hipertensi pada kehamilan, e. kelainan neurologi, f. obat-obat dan zat-zat lain (Lauralee, 2001). 2.1.3. Patofisiologi Hipertensi Mengenai patofisiologi hipertensi masih banyak terdapat ketidakpastian. Sebagian kecil pasien (2% - 5%) menderita penyakit ginjal atau adrenal sebagai penyebab meningkatnya tekanan darah. Pada sisanya tidak dijumpai penyebabnya dan keadaan ini disebut hipertensi esensial. Beberapa mekanisme fisiologis terlibat dalam mempertahankan tekanan darah yang normal, dan gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hipertensi esensial. Faktor yang telah banyak diteliti ialah : asupan garam, obesitas, resistensi terhadap insulin, sistem renin-angiotensin dan sistem saraf simpatis (Lumbantobing, 2008). Terjadinya hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut : 1. Curah jantung dan tahanan perifer Mempertahankan tekanan darah yang normal bergantung kepada keseimbangan antara curah jantung dan tahanan vaskular perifer. Sebagian terbesar pasien dengan hipertensi esensial mempunyai curah jantung yang normal, namun tahanan perifernya meningkat. Tahanan perifer ditentukan bukan oleh arteri yang besar atau kapiler, melainkan oleh arteriola kecil, yang dindingnya mengandung sel otot polos. Kontraksi sel otot polos diduga berkaitan dengan peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler (Lumbantobing, 2008). Kontriksi otot polos berlangsung lama diduga menginduksi perubahan sruktural dengan penebalan dinding pembuluh darah arteriola, mungkin dimediasi oleh angiotensin, dan dapat mengakibatkan peningkatan tahanan perifer yang irreversible. Pada hipertensi yang sangat dini, tahanan perifer tidak meningkat dan peningkatan tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya curah jantung, yang berkaitan dengan overaktivitas simpatis. Peningkatan tahanan peifer yang terjadi kemungkinan merupakan kompensasi untuk mencegah agar peningkatan tekanan tidak disebarluaskan ke jaringan pembuluh darah kapiler, yang akan dapat mengganggu homeostasis sel secara substansial (Lumbantobing, 2008). 2. Sistem renin-angiotensin Sistem renin-angiotensin mungkin merupakan sistem endokrin yang paling penting dalam mengontrol tekanan darah. Renin disekresi dari aparat juxtaglomerular ginjal sebagai jawaban terhadap kurang perfusi glomerular atau kurang asupan garam. Ia juga dilepas sebagai jawaban terhadap stimulasi dan sistem saraf simpatis (Lumbantobing, 2008). Renin bertanggung jawab mengkonversi substrat renin (angiotensinogen) menjadi angotensin II di paru-paru oleh angiotensin converting enzyme (ACE). Angiotensin II merupakan vasokontriktor yang kuat dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah (Lumbantobing, 2008). 3. Sistem saraf otonom Stimulasi sistem saraf otonom dapat menyebabkan konstriksi arteriola dan dilatasi arteriola. Jadi sistem saraf otonom mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan tekanan darah yang normal. Ia juga mempunyai peranan penting dalam memediasi perubahan yang berlangsung singkat pada tekanan darah sebagai jawaban terhadap stres dan kerja fisik (Lumbantobing, 2008). 4. Peptida atrium natriuretik (atrial natriuretic peptide/ANP) ANP merupakan hormon yang diproduksi oleh atrium jantung sebagai jawaban terhadap peningkatan volum darah. Efeknya ialah meningkatkan ekskresi garam dan air dari ginjal, jadi sebagai semacam diuretik alamiah. Gangguan pada sistem ini dapat mengakibatkan retensi cairan dan hipertensi (Lumbantobing, 2008). 2.1.4. Faktor resiko hipertensi Hampir setengah abad yang lalu, Irvin H. Page yang terkenal dengan teori mosaic of hypertension menguraikan bahwa, hipertensi merupakan” penyakit pengaturan tekanan yang diakibatakan oleh multifaktorial” (Majid, 2005). Dengan kemajuan dalam penelitian mengenai hipertensi ternyata masih banyak lagi faktor yang berperan dalam mekanisme pengaturan tekanan darah yang belum termasuk dalam teori mosaic. Multifaktorial yang dihubungkan dengan patogenesis hipertensi primer yang terutama terdiri dari 3 elemen penting yaitu : 1. Faktor genetik 2. Rangsangan lingkungan : terutama asupan garam, stress dan obesitas 3. Adaptasi struktural yang membuat pembuluh darah dan jantung membutuhkan tekanan yang lebih tingi dari fungsi normalnya. Ketiga elemen ini saling terkait dimana pengaruh lingkungan yang berlebihan dibutuhkan untuk mencetuskan predisposisi genetik sedangkan perubahan struktural kadang-kadang dipercepat oleh faktor genetik (Majid, 2005). Pada fase awal, interaksi antara predisposisi genetik dan pengaruh lingkungan menyebabkan terjadi peningkatan cardiac output (CO) melebihi resistensi perifer. 1. Faktor genetik a. Peran faktor genetik dibuktikan dengan berbagai kenyataan yang dijumpai maupun dari penelitian, misalnya: - Kejadian hipertensi lebih banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot dari pada heterozigot, apabila salah satu diantaranya menderita hipertensi. - Kejadian hipertensi primer dijumpai lebih tinggi 3,8 kali pada usia sebelum 50 tahun, pada seseorang yang mempunyai hubungan keluarga derajat pertama yang hipertensi sebelum usia 50 tahun. - Percobaan pada tikus golongan Japanese spontaneosly hypertensive rat (SHR) Dahl salt sensitive (DS) dan sal resistance (R) dan Milan hypertensive rat strain (MHS) menunjukkan bahwa dua turunan tikus tersebut mempunyai faktor genetik yang secara genetik diturunkan sebagai faktor penting timbulnya hipertensi, sedangkan turunan yang lain menunjukkan faktor kepekaan terhadap garam yang juga diturunkan secara genetik sebagai faktor utama timbulnya hipertensi (Majid, 2005). b. Faktor yang mungkin diturunkan secara genetik antara lain : defek transport Na pada membran sel, defek ekskresi natrium dan peningkatan aktivitas saraf simpatis yang merupakan respon terhadap stress (Majid, 2005). 2. Faktor lingkungan a. Keseimbangan garam Garam merupakan hal yang amat penting dalam patofisiologi hipertensi primer. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada golongan suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Apabila asupan garam kurang dari 3 gram perhari, prevalensi hipertensi beberapa persen saja, sedangkan apabila asupan garam antara 5-15 gram perhari, prevalensi hipertensi menjadi 15-20%. Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung GFR (glomerula filtrat rate) meningkat. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan kelebihan ekskresi garam (pressure natriuresis) sehingga kembali kepada keadaan hemodinamik yang normal. Pada penderita hipertensi, mekanisme ini terganggu dimana pressure natriuresis mengalami “reset” dan dibutuhkan tekanan yang lebih tinggi untuk mengeksresikan natrium, disamping adanya faktor lain yang berpengaruh (Majid, 2005 b. Obesitas Banyak penyelidikan menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang positif diantara obesitas (terutama upper body obesity) dan hipertensi. Bagaimana mekanisme obesitas menyebabkan hipertensi masih belum jelas. Akhir-akhir ini ada pendapat yang menyatakan hubungan yang erat diantara obesitas, diabetes melitus tipe 2, hiperlipidemia dengan hipertensi melalui hiperinsulinemia (Majid, 2005). c. Stress Hubungan antara stress dan hipertensi primer diduga oleh aktivitas saraf simpatis (melalui cathecholamin maupun renin yang disebabkan oleh pengaruh cathecolamin) yang dapat meningkatkan tekanan darah yang intermittent. Apabila stress menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menetap tinggi. Hal ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi pada binatang percobaan dibuktikan, pemaparan terhadap stress membuat binatang tersebut hipertensi (Majid, 2005). d. Lain-lain Faktor-faktor lain yang diduga berperan dalam hipertensi primer rasio asupan garam, kalium, inaktivitas fisik, umur, jenis kelamin dan ras (Majid, 2005). 3. Adaptasi perubahan struktur pembuluh darah Perubahan adaptasi struktur kardiovaskular, timbul akibat tekanan darah yang meningkat secara kronis dan juga tergantung dari pengaruh trophic growth (angiotensin II dan growth hormon) (Majid, 2005). 2.3. Hubungan obesitas dengan terjadinya hipertensi : Obesitas dan Hipertensi Penelitian tahun 1959 menunjukkan adanya hubungan langsung antara hipertensi dengan berat badan yang berlebihan; penelitian Framingham juga menemukan adanya kenaikan tekanan darah pada dewasa muda yang mempunyai berat badan lebih, namun masih banyak diperlukan informasi untuk menjelaskannya. Selain itu beberapa penelitian epidemiologi telah membuktikan pula adanya hubungan yang linier antara obesitas dan hipertensi; hubungan kausalnya belum dapat diketahui dengan pasti, namun dalam pengamatan selanjutnya apabila penderita obesitas diturunkan berat badannya maka tekanan darahnya akan turun pula; oleh karena itu timbul beberapa teori yang dikemukakan mengenai adanya hubungan tersebut, diantaranya yaitu : 1. Mekanisme hemodinamik. Alexander dalam penelitiannya mendapatkan peningkatan volume darah sekuncup dan volume darah pada penderita obesitas bila dibandingkan dengan yang bukan obesitas. Juga terdapat peningkatan tahanan perifer pembuluh darah penderita obesitas normotensi bila dibandingkan dengan penderita yang bukan obesitas. Sehingga timbul pendapat bahwa peningkatan volume sekuncup, volume darah dan peningkatan tahanan perifer memegang peranan penting dalam terjadinya hipertensi pada obesitas. 2. Aktivitas saraf simpatis James dkk. menemukan pada penderita wanita obesitas yang diturunkan berat badannya ternyata terjadi juga penurunan tekanan darah dan denyut jantung serta pada pemeriksaan urinenya terdapat peningkatan sisa-sisa metabolisme katekolamin yaitu : 4-hidroksi 3-metoksi mandelikasid, sehingga timbul pendapat bahwa peningkatan katekolamin merupakan akibat dari aktivitas saraf simpatis yang meningkat. 3. Endokrin Miller dkk. dalam penelitiannya mendapatkan adanya peningkatan kadar insulin dan aldosteron dalam plasma penderita obesitas. Aldosteron akan mengurangi ekskresi Na dalam glomeruli, begitu juga insulin pada percobaan binatang dengan jelas mengurangi pula sekresi Na dalam glomeruli; dalam beberapa hal keadaan ini diperkirakan juga terjadi pada manusia, sehingga adanya peningkatan insulin dan aldosteron akan menyebabkan retensi Na dalam darah yang mengakibatkan terjadinya peningkatan volume darah, yang menyebabkan hipertensi. Timbulnya hipertensi pada obesitas adalah peningkatan volume plasma dan peningkatan curah jantung yang terjadi pada obesitas berhubungan dengan hiperinsulinemia, resistensi insulin dan sleep apnea syndrome, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini terjadi pergeseran konsep, dimana diduga terjadi perubahan neuro-hormonal yang mendasari kelainan ini. Hal ini mungkin disebabkan karena kemajuan pengertian tentang obesitas yang berkembang pada tahun-tahun terakhir ini dengan ditemukannya leptin.  Leptin Leptin merupakan asam amino yang disekresi terutama oleh jaringan adipose. Fungsi utamanya adalah : • Pengaturan nafsu makan • pengeluaran energy tubuh melalui pengaturan pada susunan saraf pusat, • perangsangan saraf simpatis • meningkatkan sensitifitas insulin, natriuresis, diuresis dan angiogenesis. Normal leptin disekresi kedalam sirkulasi darah dalam kadar yang rendah, akan tetapi pada obesitas umumnya didapatkan peningkatan kadar leptin dan diduga peningkatan ini berhubungan dengan hiperinsulinemia melalui aksis adipoinsular. Pada penelitian perbanding an kadar leptin pada orang gemuk (IMT > 27) dan orang dengan berat badan normal (IMT < 27) didapatkan kadar leptin pada orang gemuk adalah lebih tinggi dibandingkan orang dengan berat badan
Hiperleptinemia ini mungkin terjadi karena adanya resistensi leptin. Beberapa teori menjelaskan resistensi leptin ini telah dikemukakan, diantaranya adalah karena adanya antibody terhadap leptin, peningkatan protein pengikat leptin sehingga leptin yang masuk ke otak berkurang, adanya kegagalan mekanisme transport pada tingkat reseptor untuk melewati sawar darah otak dan kegagalan mekanisme signal. Hal ini didukung oleh penelitian Villareal, dkk yang membandingkan efek leptin pada binatang percobaan dengan berat badan normal, obesitas dan hipertensi. Dimana didapatkan adanya kegagalan fungsi leptin pada obesitas dan hipertensi. Secara klinis efek resistensi leptin ini tergantung dari lokasi dan derajat keparahan resistensi tersebut.

BAB III
KESIMPULAN dan SARAN

3.1. Kesimpulan
Timbulnya hipertensi pada obesitas adalah peningkatan volume plasma dan peningkatan curah jantung yang terjadi pada obesitas berhubungan dengan hiperinsulinemia, resistensi insulin dan sleep apnea syndrome, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini terjadi pergeseran konsep, dimana diduga terjadi perubahan neuro-hormonal yang mendasari kelainan ini. Hal ini mungkin disebabkan karena kemajuan pengertian tentang obesitas yang berkembang pada tahun-tahun terakhir ini dengan ditemukannya leptin. Pada obesitas terjadi resistensi leptin.

3.2. Saran
Adanya penelitian lebih lanjut mengenai hubungan obesitas berpengaruh terhadap hipertensi menggunakan mekanisme yang lebih jelas sehingga dapat diketahui faktor-faktor penyebabnya.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA


Anonimous. 2009. Hipertensi dan Obesitas. www.jantunghipertensi.com. Diakses pada tanggal 2 November jam 06.25 WIB.

Hariadi, Arsad Rahim Ali. 2005. Hubungan Obesitas Dengan Beberapa Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner di Laboraturium Klinik Prodia Makassar Tahun 2005. http://arali2008.files.wordpress.com/2008/09/obesitas-dan-jantung-koroner.pdf.Diakses pada tanggal 2 November 2011 pukul 16.15

Hermawan, Guntur. 1991. Komplikasi Obesitas dan Usaha Penanggulangannya. Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret : Surakarta. www.uns.ac.id. Diakses pada tanggal 2 November 2011 jam 06.20 WIB.

Hidayati, Siti Nurul dkk. -. Obesitas pada Anak. Divisi Nutrisi dan PenyakitMetabolik. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak, FK Unair/RS.dr.Soetomo Surabaya.

Kamal et al. 2004. Obesity-Associated Hypertension. Jurnal Ilmiah (online). www.hypertensionaha.org. Diakses pada tanggal 2 November 2011 jam 15.30 WIB.

Mu’tadin, Zainun. 2002. Obesitas dan Faktor Penyebab. http://www.scribd.com/doc/4444732/Obesitas-dan-Faktor-Penyebab. diakses pada 2 November 2011.

Romadhona, Suci. 2009. Hubungan Kadar Adiponektin dengan Penyakit Perlemakan Hati Non Alkohol pada Remaja Obesitas. Universitas Diponegoro Semarang.

Septrianawati, Erlina. 2008. Hubungan Antara Obesitas dan Tekanan Darah Tinggi pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Kartasura. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://etd.eprints.ums.ac.id/5910/1/J110070066.PDF. Diakses pada tanggal 2 November 2011 pukul 16.00

Rindiastuti, Yuyun. 2008. Proposal Skripsi Hubungan Lingkar Leher dan Lingkar Pinggang dengan Hipertensi. www.yuyunrindi.files.wordpress.com. Diakses pada tanggal 2 November 2011 jam 06.20 WIB.

masalah obesitas dengan PCOS

BAB I
1.1 Latar Belakang
Penyebab utama terjadinya PCOS adalah gangguan metabolism yakni resistensi insulin yang akan mempengaruhi kesehatan reproduksi wanita. Obesitas adalah tanda utama terjadinya resistensi insulin (Hadibroto, 2005) . Insiden obesitas pada wanita yang mengalami PCOS adalah 50-60%. Resistensi insulin adalah ketidakmampuan insulin untuk menjalankan fungsi fisiologisnya. Manifestasi dapat bersifat perifer (pada jaringan) atau sentral (pada liver) akibat berkurangnya kemampuan insulin untuk menurunkan gula darah (Wiweko, 2008).
Polycystic ovarium syndrome (PCOS) adalah penyebab paling umum dari ketidaksuburan wanita akibat tidak adanya ovulasi. PCOS merupakan masalah endokrinologi reproduksi yang sering dan menyebabkan 5-10% wanita pada usia reproduktif menjadi infertile (Hadibroto, 2005). Pada kenyataannya, wanita yang memiliki PCOS tidak akan mengetahuinya hingga penderita berusaha untuk dapat hamil tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda keberhasilan (HHS, 2008).
PCOS merupakan bukanlah penyakit tunggal tetapi penyakit dengan kumpulan gejala. Menurut Stein dan Leventhal (1935), PCOS merupakan suatu kumpulan gejala yang terdiri dari amenorrhea, haid yang tidak teratur, infertil, hirsuitisme dan obesitas. Menurut herslag (1996), wanita dengan siklus haid yang reguler dengan keadaan hiperandrogen dengan atau tanpa ovarium polikistik juga dapat menderita PCOS. Selain itu, beberapa penderita PCOS tanpa tanda-tanda klinis hiperandrogen tetapi mengalami disfungsi ovarium (Hadibroto, 2005). Diagnostic PCOS dapat ditegakkan bila 2 dari 3 kriteria PCOS telah terdiagnosa yaitu tanda-tanda hiperandrogen baik secara klinik maupun biokimia, menstruasi yang tidak teratur, dan kista pada ovarium (Hadibroto, 2005).
Seiring dengan berkembangnya pengetahuan sehingga diketahui penyebab utama terjadinya PCOS, perlu adanya penanganan PCOS. Oleh karena itu, penulis ingin memperkaya pengetahuan terkait penatalaksanaan penderita PCOS dalam bidang ilmu gizi.

1.2 Rumusan Masalah
• Apa dasar penatalaksanaan PCOS?
• Bagaimana penatalaksanaan PCOS dalam bidang ilmu gizi?

1.3 Tujuan
• Mengetahui dasar penetapan penatalaksanaan PCOS
• Mengetahui penatalaksanaan PCOS dalam bidang ilmu gizi

BAB II
Obesitas adalah keadaan dimana terdapat penimbunan lemak berlebihan di dalam tubuh yang secara klinik biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks masa tubuh (IMT > 30kg/m2). Untuk orang Asia , kriteria obesitas apabila IMT > 25 kg/m2 . Berbagai komplikasi obesitas erat hubungannya dengan obesitas sentral (visceral) yang penetapannya paling baik dengan mengukur lingkar pinggang ( waist circumference).Untuk orang Asia, bila lingkar perut > 90 cm bagi pria dan > 80 cm bagi wanita maka sudah dikatakan obesitas sentral. Kejadian PCOS 50-60% diantaranya adalah obesitas dan 75% diantaranya adalah gizi berlebih (overweight) (Djuwantono,2010)
2.1 Pengertian PCOS
PCOS merupakan gangguan fungsional dari poros hipotalamus-hipofisis ovarium berkaitan anovulasi. Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara gonadotropin dan steroid seks. PCOS merupakan masalah kesehatan yang mempengaruhi: Siklus menstruasi, kemampuan untuk mendapatkan keturunan, hormone seks, jantung dan pembuluh darah serta penampilan wanita. Tanda klinis PCOS adalah ditemukan banyak kista dalam ovarium. Hal ini terjadi karena ovarium memproduksi hormone androgen secara berlebihan, dan bisa terjadi karena faktor genetic (HHS, 2010).
2.2 Etiologi PCOS
PCOS diakibatkan karena resistensi insulin dan Obesitas merupakan kunci adanya sindroma resistensi insulin (Hadibroto, 2005). Resistensi insulin adalah ketidakmampuan insulin untuk menjalankan fungsi fisiologisnya. Manifestasi dapat bersifat perifer (pada jaringan) atau sentral (pada liver) akibat berkurangnya kemampuan insulin untuk menurunkan gula darah. Resistensi insulin menyebabkan hiperinsulinemia yang akan menyebabkan metabolism androgen yang abnormal, mengganggu pertumbuhan folikel dan mengubah respon gonadotropin (Wiweko, 2008). Hormone androgen yang tinggi akan menganggu pertumbuhan folikel (Jarret Fertility group, 2006) dan keluarnya ovum saat ovulasi (HHS, 2010).

Gambar 2.2.1 mekanisme resistensi insulin dan PCOS
2.3 Tanda dan Gejala PCOS
Pada jangka pendek, PCOS akan menyebabkan disfungsi reproduksi sedangkan jangka panjang akan menyebabkan disfungsi metabolik. Gambaran utama pasien PCOS adalah haid yang tidak teratur (oligomenorrhae hingga amenorrhae), anovulasi kronik karena adanya kista, infertilitas serta gejala akibat tingginya kadar androgen yaitu hirsutism, jerawat bahkan dapat timbul pola alopesia. Hirsutism adalaha keadaan munculnya bulu-bulu kasar pada wanita seperti pada pola pertumbuhan pada laki-laki yakni di atas bibir, dagu, dada, abdomen bagian atas dan punggung (Hadibroto, 2005).
Pada keadaan amenorrhea sebenarnya tidak terjadi kekurangan estrogen justru endometrium mendapat paparan estrogen terus menerus hingga pertumbuhan endometrium mengalami kekurangan terhadap suplai darah dan menyebabkan menorrhagia (pendarahan). Kejadian amenorrhea mengindikasikan adanya peningkatan signifikan amplitude dan frekuensi pelepasan LH terhadap pelepasan FSH. Peningkatan pelepasan LH menunjukan terjadinya peningkatan GnRH berarti terjadi defek di hipotalamus (Wiweko, 2008).
2.4 Patofisiologi
2.4.1 Hubungan Resistensi Insulin Dengan PCOS
Folikel di dalam ovarium terdiri atas 2 sel yaitu sel theca dan sel granula. Sel theca berfungsi untuk mengangkut kolesterol keluar dari aliran darah dan mengubahnya menjadi androstenedione, androgen yang lemah. Oleh sel granula diubahnya nadrosteneidione menjadi estrogen kemudian menjadi estradiol, estrogen yang kuat.
Bila penderita mengalami PCOS karena masalah genetik, tingginya kadar insulin dirangsang oleh enzim yang disebut cytochrome P450c 17-α baik pada ovarium maupun adrenal untuk meningkatkan produksi hormone androgen. Peningkatan hormone androgen berasal dari ovarium dan kelenjar adrenal, oleh karena itu dengan mengangkat ovarium tidak akan menyelesaikan masalah PCOS.
Tingginya kadar insulin darah juga dirangsang oleh kelenjar pituitary yang meningkatkan produksi LH, tingginya kadar LH juga akan merangsang enzim yang sama yaitu cytochrome P450c 17α untuk memproduksi lebih banyak lagi hormone androgen tetapi hanya di ovarium tidak di kelenjar adrenal. Peningkatan LH awalnya akan meningkatkan kesensitivitas folikel untuk berkembang, namun hanya berlangsung hingga ukuran diameter folikel 8 mm. Setelah itu, perkembangan/maturasi folikel tidak berlangsung akibat tingginya kadar androgen.

Gambar 2.4.1 insulin merangsang sekresi hormone androgen pada ovarium dan adrenal
2.4.2 Mekanisme Kista Dapat Tumbuh Dalam Ovarium
Ketika tidak terjadi ovulasi, sel theca dan sel granulosa mengalami apoptosis yaitu penghancuran terhadap diri sendiri. Sel granulosa pada penderita PCOS mengalami penghancuran terhadap diri sendiri (self destruction) secara normal setelah terjadi kegagalan ovulasi, tetapi tidak pada sel theca, sel theca tetap bertahan karena adanya insulin yang mencegahnya melalui mekanisme pembentukkan kista. Setelah kegagalan ovulasi dan kematian sel granula, sel theca secara terus menerus memproduksi androstenedione, karena tidak sel granulose yang mengubah androsteneidione menjadi estrogen maka androstenedione oleh sel theca diubah menjadi testosteron (Kidson, 2006).

Gambar 2.4.2 Perkembangan Folikel Pada Wanita Normal Dan Wanita PCOS
2.5 Pemeriksaan PCOS
Tidak ada pemeriksaan tunggal yang dapat langsung mendiagnosa penyakit PCOS. Berikut beberapa step yang dilakukan oleh HHS dalam mendiagnosa PCOS :
1. Medical History : periode menstruasi, kenaikan berat badan dan gejala lainnya.
2. Physical Exam : pengukuran tekanan darah, BMI dan Waist Circumference. Juga mengecek area mana saja terjadi peningkatan pertumbuhan rambut.
3. Pelvic Exam : pemeriksaan jumlah folikel dan volume ovarium. Bila terjadi nyeri mengindikasikan ovarium membesar/membengkak akibat jumlah kista yang banyak (>12)
4. Blood Tests : pengukuran hormone androgen dan kadar glukosa darah
5. Vaginal Ultrasound (sonogram) : gambaran di area pelvic, pengecekkan terhadap kista di ovarium dan tebal endometrium-endometrium akan semakin tebal bila periode menstruasi tidak teratur.


Gambar 2.5.1 PCOS melalui pemeriksaan ultrasound

Gambar 2.5.2 Pertumbuhan folikel yang abnormal. Pada PCOS, folikel dalam kondisi stack up atau tidak dapat berkembang, yang diakibatkan karena tingginya kadar hormone androgen. Hormone androgen seperti barier terhadap perkembangan folikel
Pemeriksaan hormonal : meupakan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan hormonal mengindikasikan adanya kelainan endokrin. Berikut beberapa hormone yang diperiksa :
1. Ratio LH/FSH, bila ≥ 2 menunjukkan adanya PCOS
2. Kadar progesterone, bila ≥ 200 ng/dL mengkonfirmasikan diagnose PCOS
3. Kadar testosterone, bila ≤150 ng/dL banyak didapati pada penderita PCOS
4. Prolaktin, 5-30% penderita PCOS mengalami hiperprolaktinema
5. Kadar glukosa darah/ratio insulin, bila < 7, menunjukkan adanya resistensi insulin (Hadibroto, 2005)
2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terapi adalah menghilangkan gejala dan tanda hiperandrogen, mengembalikan siklus menstruasi menjadi normal, meningkatkan kesuburan, dan menghilangkan gangguan metabolism yang terjadi (Hadibroto, 2005). Level Insulin dapat diturunkan melalui olahraga, diet, penurunan BB dan obat diabetes. Level Insulin dapat meningkat akibat stress, kurangnya aktifitas, peningkatan BB dan pengaruh hormonal.
1. Lifestyle modification: yang mengalami PCOS adalah wanita-wanita yang memiliki berat berlebih atau obese. Dengan memperbaiki pola hidup melalui keseimbangan aktifitas fisik dan makanan yang sehat untuk menurunkan kadar glukosa darah, meningkatkan kegunaan insulin dan menormalkan hormone-hormon tubuh. Dengan modifikasi pola hidup dapat menurunkan resiko terjadinya komplikasi. Pola hidup yang dianjurkan adalah : tidak merokok, makan makanan sehat dan aktifitas fisik.
2. Birth control pills (progesterone)Untuk wanita yang sedang melakukan program KB, pil ini dapat digunakan untuk mengontrol siklus menstruasi, menurunkan hormone androgen, dan menghilangkan jerawat. Yang perlu diperhatikan bila pil ini dihentikan makan siklus menstruasi kembali tidak teratur. Kelemahan pil ini tidak mengatasi masalah kelebihan rambut-rambut kasar.
3. Diabetes medications menggunakan metformin. Metformin digunakan untuk mengontrol glukosa darah dan menurunkan produksi hormone androgen. Metformin juga memperlambat pertumbuhan rambut-rambut kasar yang abnormal.
4. Fertility medications. Efek penggunaan obat-obat kesuburan adalah meningkatkan resiko kelahiran kembar. Pengobatan yang biasanya digunakan adalah :
a. Clomiphene : merangsang ovulasi
b. Metformin : membantu clomiphene untuk merangsang ovulasi
c. Suntikan gonadotropin
5. Surgery : “Ovarian drilling" adaah pembedahan yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya ovulasi, biasanya dilakukan bila pasien tidak menunjukkan respon terhadap pengobatan kesuburan (fertility medications). Pembedahan dilakukan secara laparoskopi. Tujuan pembedahan adalah menghancurkan kista untuk membantu ovulasi dan menurunkan hormone androgen. Kelemahan metode ini adalah dapat menimbulkan jaringan parut dan tidak mengatasi masalah alopesia dan hirsutism.
6. Medicine for increased hair growth or extra male hormones atau disebut anti androgen, dapat menurunkan pertumbuhan rambut yang abnormal dan menghilangkan jerawat. Dalam penggunaannya biasanya dikombinasikan dengan birth control birth, dan tidak digunakan bila pasien sedang dalam program kehamilan (HHS, 2010).
2.7 Terapi Diet
Olahraga merupakan metode yang paling efektif dalam penurunan kadar insulin. Diet dan penurunan berat badan juga dapat untuk menurunkan kadar insulin dan karenanya dapat meningkatkan ovulasi dan konsepsi pada PCOS. Dengan menurunkan berat badan sebanyak 3-5 kg mampu mengembalikan siklus menstruasi menjadi teratur kembali dan menyukseskan ovulasi serta fertilisasi. Kunci kesuksesan treatment adalah dengan berolahraga secara teratur.
Jika wanita dengan PCOS adalah overweight, maka penting untuk menurunkan kalori food intake. Pilihlah karbohidrat kompleks dan berGI rendah , sehingga hanya akan merangsang sedikit produksi insulin dibandingkan karbohidrat ber GI tinggi. Namun pada beberapa kasus, tidak terjadi penurunan BB walaupun pasien telah mengurangi asupan karbohidratnya (Kidson, 2006)

BAB III
3.1 Kesimpulan
• Dasar Penatalaksanaan penderita PCOS adalah menghilangkan gejala dan tanda hiperandrogen, mengembalikan siklus menstruasi menjadi normal, meningkatkan kesuburan, dan menghilangkan gangguan metabolism yang terjadi
• Penatalaksanaan penderita PCOS dalam bidang ilmu gizi adalah modifikasi pola hidup melalui keseimbangan aktifitas fisik dengan makanan dan tidak merokok.
• Modifikasi pola hidup bertujuan untuk menurunkan kadar insulin di darah, sehingga dapat terjadi ovulasi dan mengembalikan siklus menstruasi.
3.2 Saran
• Perlu adanya monitoring dan evaluasi berkelanjutan terhadap modifikasi diet terkait tanda dan gejala PCOS

Daftar Pustaka
Djuwantono, Tono. 2010. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Isu terkini penanganan tepat dampak metabolik Sindroma Polikistik Ovarium. Diakses melalui http://repository.unpad.ac.id/bitstream/handle/123456789/727/isu_terkini_penanganan_yang_tepat1.pdf?sequence=2 pada 2 November 2011.
Hadibroto, Budi R. 2005. Sindroma Ovarium Poikistik. Diakses melalui http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15588/1/mkn-des2005-%20(11).pdf, pada 2 november 2011.
Health and human resources (HHS). 2008. Poliycystic Ovary Syndrome (PCOS) booklet: Beyond Infertility. Diakses melalui http://www.nichd.nih.gov/publications/pubs/upload/PCOS_booklet.pdf, pada 2 november 2011
Health and human resources (HHS). 2010. Poliycystic Ovary Syndrome (PCOS). Diakses melalui http://www.womenshealth.gov pada 2 November 2011.
Jarret Fertility Group. 2006. Polycystics Ovarium Syndrome Patient Handout. Diakses melalui http://www.jarrettfertility.com/PCOS%20patient%20handout.pdf pada 2 november 2011
Kidson, Warren; James Wackenzie Talbot. 2006. The Polycystics Ovary Syndrome-A Starting Point Not A Diagnosis. Diakses melalui http://main.posaa.asn.au/files/PCOS%20Guide.pdf, pada 2 november 2011
Wiweko, B; R Mulya. 2008. Profil Resistensi Insulin Pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik di RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. Diakses melalui http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/322089398%20ta%20ada%20h%2096%2097.pdf, pada 2 november 2011


Penatalaksanaan Penderita PCOS (Polycystics Ovarium Syndrome) terkait Ilmu Gizi




Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Malang, 2011
 
Copyright (c) 2010 Notes Online Rully and Powered by Blogger.